Tiga Serangkai: Lasminingrat, Kartini dan Dewi Sartika

Tiga Serangkai: Lasminingrat, Kartini dan Dewi Sartika

Oleh Hasanuddin (Pemerhati Sosial)

WARTAGEMURUH.COM–
Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”, demikian Pidato Presiden Soekarno (Bung Karno) pada HUT Kemerdekaan RI Tahun 1966.

Semoga pada HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2021, Presiden Jokowi tidak lupa dengan Sejarah Raden Ayu Lasminingrat pada emansipasi dan pendidikan, tidak hanya pada kaum perempuan namun juga pendidikan pada kesulurahan, sebagaimana 2 tokoh lainnya; Kartini dan Dewi Sartika yang telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Mengapa RA Lasminingrat harus ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional? Dan mendudukan Lasminingrat  sejajar dengan Kartini dan Dewi Sartika?

Berbagai literatur telah menuliskan peran Lasminingrat (1879) dalam upaya mendidik kaum pribumi, jauh sebelum sekolah formil didirikan akibat kebijakan politik etis 1901.

Tahun 1879, Lasminingrat telah mendidik kaum pribumi disaat Kartini baru lahir (1879) dan Dewi Sartika 5 tahun kemudian lahir (1884).

Lasminingrat muda, dikala itu telah mendidik anak-anak priangan dengan pendidikan moral, psikologi, ilmu alam, dan agama.

Ia juga telah menterjemahkan tulisan Christoph Erman von Schmid (1875) dengan judul Tjarita Erman (1875), Judul Tjarita Erman dan menterjemahkan buku dongeng Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur dengan judul Warnasari jilid 1 dan 2 Tahun 1876.

Meskipun hanya menerjemahkan, namun hal ini sangat revolusioner dan tepat disaat itu bagi strategi pendidikan pribumi yang masih sulit didapatkan di era penjajahan.

Terjemahan tersebut dibuat sebelum Kartini dan Dewi Sartika lahir.

Tak bermaksud bercerita tentang siapa yang lebih dahulu, namun mengingatkan kepada pemerintah bahwa Lasminingrat dapatlah disebut perintis politik etis pribumi yang kelak dilanjutkan bersama Kartini dan Dewi Sartika, dan pada akhirnya menjadi kebijakan pemerintahan hindia belanda pada tahun 1901.

Namun, demikian, Lasminingrat tidak hanya mendidik langsung dan menterjemahkan karya-karya besar diera itu, tetapi juga mendirikan sekolah, yakni Sakola Keutamaan Isteri pada Tahun 1907 di Pendopo Garut.

Dari nama sekolahnya saja jelas; Keutamaan Isteri!

Lasminingrat adalah sosok perintis pendidikan kaum perempuan di Indonesia, sejaman dengan Kartini dan Dewi Sartika.

Tiga serangkai, emansipatoris pendidikan perempuan di Indonesia, dan jika dirunut maka, tiga serangkai ini mestilah ditulis tersusun: RA Lasminingrat, RA Kartini dan RA Dewi Sartika.

RA Kartini dan Dewi Sartika sudah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, kini menunggu Penetapan Lasminingrat.

Semoga Presiden Jokowi mengingat hal ini ditengah kesibukan beliau, dan tetap pada Garis Pesan Bung Karno; “Jangan Sekali-kali melupakan Sejarah”

Kini di tahun 2021, kita telah mencatat penerus RA Lasminingrat, tokoh perempuan di Kabupaten Garut, ada Ketua DPRD perempuan pertama di Garut, Euis Ida Wartiah; Politisi Nasional Riekeu Diah Pitaloka; Anggota DPR RI kelahiran Garut; dan Mantan Komisaris BUMN Kontruksi terbesar di Indonesia, Imas Aan Ubudiah Maksum; juga ada Pemimpin Partai Politik, Diah Kurniasari (Nasdem).

Semua menjadi catatan kaki dari RA Lasminingrat.

Semoga almarhumah RA Lasminingrat diterima di sisi Allah SWT, tahun 1948 beliau meninggalkan kita, namun hingga 2021 kita masih membahasnya.

Begitulah sang visioner dan para pahlawan; “Mereka Tak Terlupakan oleh Generasi Setelahnya”. (*)

Garoet, 7 April 2021
Editor: Bulan-WS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *