Membaca Pandemi Covid-19 dengan Kacamata Model R&D Paul Romer : Akar Masalah, Dampak, dan Rekomendasi Kebijakan

Membaca Pandemi Covid-19 dengan Kacamata Model R&D Paul Romer : Akar Masalah, Dampak, dan Rekomendasi Kebijakan

Oleh: Muhammad Fauzan
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor
Dosen Program Studi Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 

Pandemi Covid-19 adalah masalah kesehatan masyarakat berskala global yang kemudian berkembang menjadi global economic wide shocks (goncangan ekonomi luas berskala global). Akar penyebab utamanya adalah penyebaran virus tersebut, dari satu kota di Tiongkok bernama Wuhan hingga kini telah menyebar di seluruh negara di dunia. Berbagai upaya untuk mengendalikan penyebaran virus tersebut melalui pembatasan pergerakan manusia skala besar telah menyebabkan goncangan pada aggregate demand dan aggregate supply sekaligus. Bahkan pandemi Covid-19 juga mengguncang rantai pasok global serta hampir semua sektor ekonomi dan lapangan usaha terpengaruh sehingga aggregate demand dan aggregate supply terus menurun. Kondisi ini yang menyebabkan terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara, termasuk Indonesia. Bahkan keadaan menjadi semakin memburuk dengan terjadinya resesi ekonomi.

Model Research and Development (Model R&D) yang dikembangkan oleh Paul Romer, seorang pakar ekonomi dan penerima Penghargaan Nobel dalam bidang Ekonomi tahun 2018, merupakan pendalaman lebih lanjut dari model-model ekonomi terdahulu, dimana efektivitas tenaga kerja yang sebelumnya dianggap eksogen, dalam model R&D bersifat endogen. Model ini menafsirkan secara eksplisit efektivitas tenaga kerja sebagai pengetahuan dan memodelkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya dari waktu ke waktu.
Untuk memodelkan akumulasi pengetahuan diperlukan sektor R&D untuk memproduksi ide-ide baru yang tergantung pada jumlah modal dan tenaga kerja yang terlibat dalam penelitian dan tingkat teknologi. Pada model ini, kegiatan R&D dilakukan oleh para pelaku ekonomi yang bermotif memaksimumkan keuntungan. Karenanya, R&D akan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada gilirannya mempengaruhi insentif untuk alokasi sumber daya untuk sektor R&D.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, Paul Romer menekankan pada perlunya inovasi dan ilmu pengetahuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dia mengembangkan model ekonomi endogen ini yang telah terbukti efektif untuk diterapkan di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dalam model R&D, setidaknya ada tiga faktor penentu pertumbuhan ekonomi jangka panjang, yaitu 1) jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam R&D, 2) produktivitas di sektor R&D, dan 3) peningkatan jumlah penduduk. Adanya gangguan terhadap tiga variabel tersebut akibat pandemi Covid-19 secara nyata telah menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Terjadinya gangguan kesehatan akibat infeksi virus Covid-19 yang menjangkit tubuh manusia, baik yang skala ringan sampai pada skala berat dan kematian, telah menyebabkan penurunan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam R&D. Penurunan jumlah tenaga kerja ini bisa berasal dari banyaknya kasus kematian tenaga ahli karena Covid-19 maupun karena adanya tenaga kerja yang harus menjalani perawatan, isolasi mandiri, terdampak pembatasan perjalanan, dan lain sebagainya. Penurunan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam R&D akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah. Ini adalah dampak yang pertama.

Dampak yang kedua adalah pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan produktivitas di sektor R&D sehingga menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Dalam model R&D, agar ekonomi dapat terus tumbuh maka produktivitas di sektor R&D harus terus dipertahankan atau bahkan ditingkatkan. Peningkatan produktivitas ini dapat dilakukan melalui penggunaan teknologi baru yang lebih canggih atau menyempurnaan teknologi lama sehingga menjadi lebih efisien sehingga output yang dihasilkan per tenaga kerja menjadi lebih tinggi.

Namun, pandemi Covid-19 telah menyebabkan masalah serius terutama yang terkait dengan kesehatan pekerja. Pekerja yang kondisinya tidak fit, baik secara fisik maupun mental, akan cenderung menurun produktivitasnya. Belum lagi adanya kebijakan pembatasan kegiatan publik skala besar, seperti PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), dan WFH (Work from Home), menyebabkan pekerja tidak dapat menjalankan tugasnya secara normal seperti sebelumnya. Akibatnya, penurunan produktivitas pekerja tidak dapat dihindarkan.

Dampak yang ketiga dari pandemi Covid-19 adalah terjadinya kematian dalam jumlah besar dalam waktu singkat yang berakibat pada penurunan jumlah penduduk. Menurut data WHO (World Health Organization) sampai pada pertengahan Juni 2021, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 telah mencapai 3,7 juta orang di seluruh dunia dan lebih dari dari 53 ribu orang di Indonesia.

Dalam model R&D dijelaskan bahwa peningkatan jumlah penduduk secara signifikan akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini terjadi karena semakin banyak orang yang terlibat dalam R&D akan menghasilkan penemuan atau inovasi yang lebih banyak, yang kemudian menyebabkan stok pengetahuan tumbuh lebih cepat sehingga output per tenaga kerja pun tumbuh lebih cepat. Banyaknya kasus kematian akibat Covid-19 tentu akan memberi implikasi sebaliknya.

Agar ekonomi Indonesia dapat segera recovery dari kondisi saat ini, setidaknya ada beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Dalam jangka pendek, pemerintah Indonesia harus memberi prioritas pada pengendalian penyebaran Covid-19 sebagai akar masalahnya. Memang ada trade-off antara upaya menurunkan kasus Covid-19 dengan upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun demikian dengan memberi prioritas pada pengendalian kasus Covid-19 akan memunculkan sentimen positif bagi para pelaku ekonomi sekaligus membuka jalan awal untuk meningkatkan perekonomian.
  2. Dalam jangka menengah, setelah penyebaran Covid-19 relatif terkendali, pemerintah Indonesia dapat memfokuskan arah kebijakannya pada perlindungan kelompok masyarakat rentan serta dunia usaha, termasuk juga mengurangi tekanan sektor keuangan.
  3. Dalam jangka panjang, pemerintah Indonesia harus menjalankan program-program pemulihan pasca pandemi Covid-19 skala besar sehingga dapat kembali seperti kondisi sebelumnya.

Dalam upaya recovery dari kondisi saat ini, sesuai dengan esensi dari model pertumbuhan endogen, pemerintah harus berperan aktif dalam menciptakan kondisi perekonomian yang terus tumbuh. Perekonomian dapat didorong dengan mengedepankan industri yang berbasis pengetahuan (knowledge-based industries) sebagai motor penggerak utama. Rantai pasok barang yang selama ini berjalan secara offline harus mulai beralih pada rantai pasok digital. Perlu ada peningkatan capital investment untuk infrastruktur fisik dan aspek nonfisik seperti pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan yang berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan human capital. (*)

Editor Bulan Tresyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *