Lasminingrat, Sekali Lagi

Lasminingrat, Sekali Lagi

Oleh Darpan

WARTAGEMURUH.COM– Seorang teman mengirim pesan melalui whatsapp. Ia mengirim sebuah foto lawas. Konon, ia peroleh dari arsip KITLV. Tampak berjejer para menak lokal dan para pejabat kolonial Hindia Belanda. Dari keterangan foto yang singkat bisa didedah mungkin mereka berfoto bersama seusai pelantikan RAA Suriadiningrat sebagai Bupati Cianjur tahun 1920.

Ada banyak orang di sana. Tapi teman saya kemudian menandai seorang perempuan setengah baya dalam foto itu. Ia perbesar, dan, katanya, mungkin itu Raden Ayu Lasminingrat.

Kesimpulan itu didapat dari sangkanya bahwa sang bupati yang dilantik adalah menantu Raden Kartawinata. Lasminingrat dan Kartawinata sama-sama putra RH Muhammad Musa, Penghulu Besar Limbangan Garut yang mashur. Terutama, teman saya meyakini itu Lasminingrat karena raut wajahnya yang khas.

Sayang, keterangan foto hanya menulis “Pelantikan R.A.A. Suriadiningrat sebagai bupati Cianjur, 1920”. Sementara siapa saja yang berdiri di sana, tak disebut satu-satu. Bukan tidak mungkin, keterangan soal ini ada pada arsip lain. Seperti kita tahu, Belanda bangsa yang sangat teliti, dan apik. Mereka mewarisi tradisi literasi Eropa yang kuat, bahkan sejak jaman Yunani Kuno.

Menyebut Lasminingrat, harus diakui seperti bertemu bayangan dalam kabut. Ia kentara, tapi terlihat remang-remang. Kentara karena kita mengetahui ada beberapa catatan dan karyanya yang sampai pada kita hari ini.

Melalui penelitian, melalui penelusuran. Namun untuk melihat dengan jelas siapa dan bagaimana ia sebenarnya, selimut kabut masih terlalu pekat.

Untuk urusan foto saja, kita bulak balik dekok mereproduksi sebuah foto yang itu-itu juga. Foto setengah badan koleksi KITLV yang dipublikasikan oleh orang Jepang. Sementara yang disangka sosok Raden Ayu Lasminingrat pada foto lain, keterangannya tak langsung merujuk pada nama perempuan menak itu. Bahkan murni sangkaan, seperti analisis teman saya.

Wajar jika saat tokoh ini diajukan menjadi Pahlawan Nasional untuk pertama kali, tak bersambut. Alasannya, data tentang perempuan ini masih sumir. Perlu dilengkapi, perlu diteliti dan digali kembali. Sementara kita di sini, di tanah kelahiran Lasminingrat, yakin betul ia bukan perempuan sembarangan.

Bahkan dari catatan-catan yang sejauh ini ditemukan, terutama yang disampaikan Mikihiro Moriyama, Lasminingrat sudah fasih ngomong Belanda sejak muda. Menulis buku pula. Menginisiasi pendidikan untuk sesamanya. Peneliti Jepang itu bahkan membuat senarai karyanya dalam bahasa Sunda, yang konon menjadi bacaan wajib murid-murid sekolah pribumi.

Deddy Effendie, peneliti lokal Garut, bahkan menemukan fakta lain. Dari wawancara dengan kerabat dan keturunan Lasminingrat, ia mendapat informasi bahwa Dewi Sartika saat mendirikan sekolah bagi anak-anak perempuan di Bandung, mendapat advis dari Lasminingrat.

Persoalannya, pengajuan seseorang menjadi pahlawan nasional butuh bukti komprehensif yang bisa diuji dengan ilmu sejarah. Tidak bisa mengandalkan gosip atau katanya. Sementara data yang pernah diusulkan umumnya data-data sekunder. Data yang dicomot dari beberapa hasil peneliti, atau yang diperoleh dari kliping koran dan majalah.

Sementara arsip dan laporan pemerintah kolonial soal tektek bengek bangsa jajahan, belum banyak disentuh. Di sana pastilah ada cuplikan atau laporan khusus yang banyak membicarakan perempuan ini. Karena, seperti terkuak dari buku lama yang mengisahkan kerabat RH Muhammad Musa, Lasminingrat sangat intensif berhubungan dengan tokoh-tokoh Belanda di Limbangan Garut, di Sumedang, di Bandung, di Cianjur, Bahkan di Batavia dan Bogor.

Dalam buku kumpulan surat keluarga Musa yang berupa wawacan, misalnya, Lasminigrat beberapa kali dibawa ayahnya ke Istana Bogor, bercengkrama dengan keluarga Gubernur Jendral layaknya saudara dekat. Atau, dari buku harian Rajapamerat, anak Lasminingrat di Sumedang, perempuan ini diagmabarkan begitu agung dan cerdas.

Saya sendiri meyakini betul ada banyak data dan informasi tentang perempuan ini. Okelah, seperti dikatakan Kang Deddy, banyak arsip tentang Lasminingrat terbakar atau sengaja dibakar saat revolusi berkecamuk. Tapi ingat, hidup Lasminingrat sebagain besar dihabiskan pada jaman penjajahan kolonial Belanda. Maka, jika benar perempuan ini menduduki posisi penting dalam keluarga menak lokal dan punya hubungan dekat dengan petinggi kolonial, bisa dipastikan akan banyak arsip dan catatan yang pernah dibuat dan disimpan. Bahkan mungkin hanya bisa ditemukan di negeri penjajah nun jauh di sana.

Jika kita sekarang bersikeras ingin mengajukan kembali Lasminingrat sebagai pahlawan nasional untuk kali kedua, maka pekerjaan besarnya adalah membongkar arsip dan catatan masa lalu. Media lokal dan Belanda jaman itu mesti dipirit lembar per lembar. Laporan kolonial tentang masarakat pribumi di Garut mesti dirunut.

Jika tidak, Lasminingrat akan tetap berselimut kabut. (*)

Ed. Bulan Tresyana

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *