KLB Muldoko

KLB Muldoko

Oleh Asep Lukman (Aktifis non-Partisan)

WARTAGEMURUHJABAR.COM– Terusterang, saya bukan orang yang menaruh simpati tinggi pada langkah politik partai-partai di Indonesia, tak terkecuali langkah politik tanggung ala SBY dan kroninya itu.

Alasanya, Hari ini masyarakat dengan mudah dapat melihat dan merasakan betapa ambisinya para penjabat itu pada harta dan jabatan. Mereka berkumpul seolah penuh keharmonisan dalam membangun koalisi jika kebagian jatah uang dan kedudukan. Sebaliknya, bagi yang tidak dapat bagian, mereka menunjukan sikap anti-pati –Saling caci – saling maki.

Tontonan itu dilihat manusia setiap hari. Rakyat yang lemah tak bisa berbuat apapun kecuali berharap dapat kebagian setetes manis madu negara, selebihnya putus asa dan memilih apatis dengan keadaan karena merasa mustahil mendapat giliran.

Khusus menyoroti KLB Partai Demokrat yang diaktori Muldoko, saya tidak akan panjang lebar untuk mengomentarinya. 

Menurut saya, seorang Mat Peci pun pasti beristigfar jika melihat pencuri ayam mengambil ayam berikut kandangnya, sertifikat tanahnya, dan sekaligus tai ayamnya di siang bolong dengan strategi mengaku diri sebagai ahli waristnya. 

Lalu, deklarasi di depan para penjahat kawakan lain, menyebut diri seorang mafia hebat dan sportif. 

Kenapa demikian? 

Saudara sekalian, ingatlah, karena seekor kucing pun tahu, bagaimna etisnya mencuri ikan di atas meja makan.

Jangan salah paham!
Saya tidak sedang mengutuk tujuan Muldoko atau mencibir kebiasaan politisi yang gemar saling bajak membajak itu. Akan tetapi, saya hanya merasa heran saja dengan cara yang dilakukanya. 

Sebenarnya, siapa sih yang jadi pembisiknya itu atau memang murni inisiatif dirinya?

Lain kali boleh kenalan dengan saya, biar saya kasih tahu bagaimana cara mencopet duit di saku tanpa terasa pemiliknya, atau cara bajak pesawat ulang-alik dengan cara yang legal meskipun tak harus cara yang halal.

Penutup. Sekdar menegaskan paragraf di atas; kalaulah diibaratkan semua politisi itu adalah para bajak laut ulung, maka Mulodoko, karena langkahnya yang tidak etis itu bisa disebut pencoleng sembrono yang amatiran.

Penjahat seperti itu bisa saja menderita diterjang sakit kepala bukan karena serangan dari musuhnya, tapi tertekan karena dicibir dan dibully para tetangganya. (*) www u

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *