Apa Kabar Buruh Informal?

Apa Kabar Buruh Informal?

Oleh: Reza Arief Budiman

 

SUKABUMI, WARTAGEMURUH.COM — Banyak pihak yang menggaungkan perihal hak-hak buruh dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi ‘pejuang’ bagi mereka kaum buruh. Mulai dari kesejahteraan, tunjangan, status dan lain sebagainya.

Tentu, hal ini merupakan sesuatu yang sangat positif selama siapapun maupun apapun yang diperjuangkan itu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Para serikat buruh atau pekerja maupun lembaga-lembaga ataupun lainnya yang bergerak secara khusus terkait hal itu tentunya patut mendapatkan apresiasi atas ketulusan dan kepedulian mereka terhadap kaumnya, dan sungguh tidak akan terbayar nilai-nilai kebaikan mereka meski ucapan terima kasih itu datang dari seluruh penduduk di dunia ini sekalipun.

Akan tetapi terlepas dari hal itu, rasa-rasanya ada hal yang hampir luput dari pandangan dan perhatian publik terkait buruh. Buruh atau pekerja terkategorikan dalam dua kelompok, buruh atau pekerja formal dan buruh atau pekerja informal. Sedangkan berbicara hari ini, kebanyakan lembaga, serikat atau organisasi kebanyakan terkonsentrasi pada buruh atau pekerja formal. Meskipun ada yang lembaga, serikat atau organisasi yang concern mengurusi buruh informal, namun tidak terlalu signifikan dibanding mereka yang concern terhadap buruh formal.

Menyalin lokadata, jumlah pekerja formal per tahun 2019 itu sebanyak 55.272.968 pekerja atau mengalami peningkatan sebanyak 4,1 persen dari tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 53.094.391 pekerja. Sementara di sektor informal, jumlah pekerja di tahun yang sama sejumlah 74.093.224 orang atau meningkat 0,16 persen dari tahun sebelumnya.

Bahkan, dilihat dari tren delapan tahun terakhir, pertumbuhan sektor formal memiliki kecenderungan lebih tinggi ketimbang pekerja sektor informal. Meski demikian, pekerja Indonesia masih didominasi pekerja informal, sebanyak 57,27 persen, dibanding pekerja informal, 42,73 persen, pada 2019.

Terlepas dari kemelut maupun pro-kontra terkait omnibus-law sampai saat ini, setidak-tidaknya ada jaminan hukum yang kuat dan jelas bagi mereka para pekerja formal, baik itu terkait hak-hak secara nilai-nilai kemanusiaan maupun kesejahteraan. Sementara, bagaimana nasib para pekerja informal hari ini?

Lalu, mereka yang bekerja serabutan, buruh harian lepas, buruh bangunan konvensional, para pekerja di sektor UMKM, buruh-buruh panggul, para pekerja di pasar, para pekerja di toko-toko kecil, freelancer, apa kabar?

Meskipun jaminan sosial dan bentuk perhatian dari pemerintah, stakeholder, maupun pihak-pihak lainnya tidak bisa dikatakan tidak ada, akan tetapi hal ini belum terlalu signifikan bisa dirasakan. Perlu adanya keseriusan dan kerjasama berbagai pihak dalam pembangunan sumber daya manusia serta regulasi yang secara khusus untuk memastikan dan menjamin hak-hak kemanusiaan dan kesejahteraan terkait buruh informal agar senantiasa terpenuhi, sebagai wujud ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ . (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *